Selasa, 18 Desember 2012

‎"KISAH DUA BUAH BATA".

Seorang Bikhu muda bersama teman-temannya membangun tempat ibadah secara mandiri pada suatu waktu pada suatu masa. Si Bikhu muda ini kebagian tugas mendirikan sebuah dinding bata. Padahal sebelumnya, ia tidak memiliki pengalaman bertukang sama sekali .


Mendirikan dinding bata sepertinya terlihat mudah. Tinggal oleskan semen, lalu letakkan bata, oleskan semen lagi, letakkan bata lagi, sampai berdiri dinding kokoh rapi setinggi yang diinginkan.

Tapi ternyata tidak semudah kelihatannya bagi dia.

Meratakan posisi bata dan mengukur takaran semen yang pas perlu pengalaman dan ketelitian. Salah ukur, maka dinding akan miring, atau posisi bata akan tidak teratur.

Namun akhirnya, dengan ketekunan khas penganut Budha, dinding buatannya akhirnya berdiri. Sayangnya, setelah selesai dan diperhatikan, Bikhu muda menemukan ada 2 buah bata yang tidak pas penempatannya. Jelek sekali. Miring. Menonjol.

Bikhu muda ini terus menyesali keberadaan 2 buah bata yang merusak dinding karyanya tersebut. Setiap hari, setiap waktu ia menyayangkan cacat dindingnya. Hingga ia meminta pada Bikhu Senior, pimpinannya, agar diijinkan membongkar dinding tersebut dan membangunnya kembali dengan sempurna.

Namun Bikhu senior melarangnya.

Bikhu muda terus menyesali 2 bata tersebut.

Hingga suatu hari, ketika ia sedang menatap dan merutuki dinding batanya itu, seorang peziarah lewat dan memuji dinding tersebut sebagai dinding yang sangat indah.

Bikhu muda memandang peziarah dengan heran, “Indah? apa anda tidak melihat 2 buah bata cacat yang merusak dinding ini?”

Peziarah balik memandang bikhu muda dan berkata, “tentu saja saya melihat 2 bata tersebut, tapi saya juga melihat 9998 buah bata lain yang terpasang dengan rapi dan kokoh…”

**********************

#Cerita diatas saya kutip dan saya ceritakan dengan bahasa saya sendiri dari buku berjudul "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya".

Kenapa saya ceritakan dengan bahasa saya sendiri?
Karena saya hanya membaca buku tersebut di sudut sebuah toko buku di pusat perbelanjaan pada suatu siang tanpa sempat membelinya.

Buku ini merupakan kumpulan artikel dan ceramah yang ditulis oleh "Ajahn Brahm", seorang bule London lulusan universitas terkemuka yang pada usia pertengahan 20-an memutuskan pergi ke Thailand dan mendalami Budha.

Kumpulan cerita dari Ajahn Brahm cukup menarik. Apalagi gaya penulisannya juga dipenuhi humor cerdas, dan terkadang menertawakan hidup dengan cara yang unik.

Seperti cerita "2 buah bata" di atas. Si Bikhu muda itu adalah Ajahn Brahm sendiri.

Dan dinding bata itu, mungkin adalah hidup kita, pernikahan kita, pekerjaan kita.

=> Kita kadang memang terfokus pada ’2 bata’ kesalahan dan melupakan 9998 bata yang bagus di sekelilingnya. Lalu akhirnya justru ingin merobohkan keseluruhan dindingnya,

Kita kadang tenggelam dalam 1 – 2 masalah hidup, dan melupakan kenikmatan dan keindahannya yang tak berhingga. Lalu tiba-tiba saja ingin mati.

Kita kadang menyesali 1 -2 perilaku menyebalkan istri/suami kita, dan melupakan ribuan cerita cinta dan kelebihannya. Lalu tiba-tiba perceraian menjadi keputusan.

Kita kadang menyerah terhadap 1 – 2 aral dalam pekerjaan, melupakan perasaan luar biasa yang kerap didapatkan dari kesuksesan. Lalu tiba-tiba berhenti berusaha menjadi pilihan.

********************

Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya adalah buku yang cukup bagus untuk dibaca, minimal dihadiahkan kepada saya. Dan yang membuat saya semakin tertarik adalah buku ini ditulis oleh seorang Bikhu, yang meniti jalan Budha.


(Sumber : klik disini)


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung dan membaca tulisan2 di blog ini.
Selanjutnya, silahkan tinggalkan jejak kamu diblog ini
dengan menuliskan komentar kamu di "kotak komentar" yang sudah tersedia.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

KOMENTAR LEWAT FACEBOOK